Asal-Usul Jemparingan dan Prajurit Nyutra: Benarkah dari Kasultanan Yogyakarta?
.
Asal-usul jemparingan masih menjadi pembahasan menarik dalam sejarah panahan tradisional Jawa.
Salah satu pendapat yang beredar menyebut bahwa jemparingan berasal dari Kasultanan Ngayogyakarta, dengan keberadaan Prajurit Nyutra sebagai salah satu buktinya.
Namun, benarkah keberadaan Prajurit Nyutra membuktikan bahwa jemparingan berasal dari Kasultanan Yogyakarta?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat sejarah Prajurit Nyutra lebih jauh.
.
Prajurit Nyutra Sudah Ada Sebelum Kasultanan Yogyakarta
Kasultanan Ngayogyakarta berdiri pada 1755, setelah Perjanjian Giyanti.
Sementara itu, jejak sejarah Prajurit Panyutra menunjukkan bahwa kesatuan ini sudah dikenal pada masa Mataram Islam, jauh sebelum Kasultanan Yogyakarta berdiri.
Hal ini menarik karena sumber resmi Kraton Yogyakarta sendiri menjelaskan bahwa menurut tradisi, Prajurit Nyutra berasal dari Prajurit Panyutra dari Sumenep, Madura, yang dikirim sebagai sumbangan persahabatan kepada Keraton Mataram.
Dengan kata lain, sejarah Nyutra tidak dimulai pada tahun 1755 bersama berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Jejaknya lebih tua.
.
Panyutra Juga Ada di Surakarta
Setelah perjalanan panjang sejarah Mataram, muncul dua pusat kekuasaan besar yang sama-sama mewarisi tradisi Mataram:
Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Di Surakarta juga dikenal Prajurit Nyutra atau Panyutra.
Penelitian mengenai prajurit Keraton Surakarta bahkan mencatat bahwa Prajurit Nyutra/Panyutra memiliki kemampuan dalam jemparingan atau panahan.
Ini menjadi fakta penting.
Jika Panyutra sudah dikenal pada masa Mataram dan kemudian terdapat di Yogyakarta maupun Surakarta, maka keberadaan Nyutra di Yogyakarta tidak dapat berdiri sendiri sebagai bukti bahwa jemparingan berasal dari Kasultanan Yogyakarta.
.
Lalu Apa Hubungan Nyutra dengan Jemparingan?
Hubungannya memang sangat kuat.
Dalam tradisi keprajuritan Kraton Yogyakarta, Prajurit Nyutra memiliki berbagai perlengkapan dan senjata. Salah satunya adalah jemparing atau panah.
Artinya, kita mempunyai dasar yang kuat untuk mengatakan:
Prajurit Nyutra merupakan bagian dari tradisi keprajuritan Kraton Yogyakarta yang memiliki hubungan dengan panahan/jemparing.
Tetapi kalimat tersebut berbeda dengan:
“Karena ada Prajurit Nyutra, maka jemparingan berasal dari Kasultanan Yogyakarta.”
Dua pernyataan tersebut tidak sama.
Yang pertama didukung oleh keberadaan Nyutra sebagai prajurit pemanah.
Yang kedua membutuhkan bukti sejarah mengenai asal-usul jemparingan itu sendiri.
.
Sejarah Harus Dibaca Berdasarkan Kronologi
Kita bisa melihatnya secara sederhana:
Mataram Islam
↓
Panyutra sudah dikenal
↓
Perkembangan tradisi keprajuritan Mataram
↓
Surakarta dan Yogyakarta
↓
Panyutra/Nyutra berkembang dalam lingkungan masing-masing
Dari kronologi tersebut, kita dapat melihat bahwa tradisi Nyutra lebih tua daripada Kasultanan Yogyakarta.
Karena itu, keberadaan Nyutra tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan tempat lahirnya jemparingan.
.
Jadi, Apakah Jemparingan Bukan Tradisi Yogyakarta?
Bukan begitu.
Jemparingan jelas memiliki sejarah yang sangat kuat di lingkungan Kasultanan Yogyakarta, termasuk dalam tradisi keprajuritan dan kebudayaan keraton.
Yogyakarta merupakan salah satu tempat penting dalam pelestarian dan perkembangan Jemparingan Mataraman hingga sekarang.
Namun, mengatakan bahwa jemparingan pasti berasal dari Kasultanan Yogyakarta hanya karena adanya Prajurit Nyutra adalah kesimpulan yang terlalu jauh.
Sejarah membutuhkan lebih dari satu bukti.
Kita perlu melihat sumber-sumber yang lebih tua, termasuk sejarah Mataram Islam, tradisi keprajuritan, naskah, arsip, serta perkembangan panahan di berbagai pusat kekuasaan Mataram.
.
Belajar Budaya Juga Berarti Belajar Memeriksa Sumber
Bagi saya, persoalan ini bukan tentang Yogyakarta melawan Surakarta.
Juga bukan tentang siapa yang lebih berhak mengatakan bahwa jemparingan adalah miliknya.
Ini tentang bagaimana kita belajar memahami budaya dengan lebih hati-hati.
Kita boleh mencintai tradisi.
Kita boleh bangga terhadap tempat kita belajar.
Tetapi ketika berbicara tentang asal-usul sejarah, kita sebaiknya membedakan antara:
“tradisi ini dilestarikan di sini”
dan
“tradisi ini pertama kali berasal dari sini.”
Keduanya tidak selalu sama.
.
Kesimpulan
Prajurit Nyutra memang memiliki hubungan erat dengan tradisi panahan di lingkungan Kraton Yogyakarta. Namun, keberadaan Prajurit Nyutra tidak cukup untuk membuktikan bahwa jemparingan berasal dari Kasultanan Yogyakarta.
Berbagai sumber menunjukkan bahwa tradisi Panyutra sudah memiliki jejak pada masa Mataram Islam, sebelum Kasultanan Yogyakarta berdiri pada 1755. Tradisi tersebut kemudian memiliki jejak di lingkungan Yogyakarta maupun Surakarta.
Karena itu, untuk sementara lebih tepat mengatakan bahwa:
Kasultanan Yogyakarta merupakan salah satu pewaris, pelestari, dan pengembang tradisi Jemparingan Mataraman, bukan otomatis tempat kelahiran jemparingan hanya berdasarkan keberadaan Prajurit Nyutra.
Dan mungkin justru di sinilah keindahan sejarah Mataram.
Satu tradisi dapat memiliki perjalanan yang panjang, melintasi kerajaan, wilayah, dan generasi.
Tugas kita bukan mempersempit sejarah agar sesuai dengan kebanggaan kita.
Tugas kita adalah menjaganya agar tetap benar ketika diwariskan kepada generasi berikutnya.
.
.
📜 Tokoh Mataram:
🏛️ JEMPARINGAN Heritage Collection:
Sumber
- Kraton Yogyakarta, “Toponim Kampung Prajurit di Yogyakarta”, bagian Kampung Nyutran.
Baca di Kraton Yogyakarta - Padmasusastra, Serat Bauwarna (1898), sebagaimana dikutip dalam penelitian mengenai Prajurit Nyutra. Penelitian tersebut mencatat keterangan bahwa Panyutra telah ada pada zaman Mataram.
- Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, “Menapak Sejarah Penamaan Kampung dengan Bregada Kraton”, bagian Kampung Nyutran.
Baca di Dinas Kebudayaan DIY - Penelitian mengenai Pergeseran Fungsi Bregada Prajurit Keraton Surakarta, yang mencatat Prajurit Nyutra/Panyutra serta keterampilan jemparingan atau panahan.