Srikandi Maguru Manah: Warisan Tari Klasik Keraton Yogyakarta
Srikandi Maguru Manah merupakan salah satu lakon penting dalam tradisi Wayang Wong Gaya Yogyakarta yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta. Nama Maguru Manah berarti berguru memanah, mengisahkan perjalanan Dewi Srikandi belajar ilmu panah kepada Arjuna sebelum akhirnya menjadi kesatria wanita yang tangguh.
Lakon ini menjadi bagian dari perkembangan seni pertunjukan Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII (1921-1939). Pada masa inilah Wayang Wong mencapai salah satu puncak kejayaannya, dengan berbagai pementasan yang melibatkan keluarga keraton, para abdi dalem, serta seniman pilihan.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Srikandi Maguru Manah pernah dipentaskan di Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta pada 13 hingga 15 Februari 1928, bersama lakon Partakrama dan Sumbadra Pralaya. Pementasan tersebut merupakan bagian dari upaya Keraton dalam melestarikan seni pertunjukan klasik Jawa sekaligus memperkaya khazanah budaya Mataram. (Sumber: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta)
Selain menjadi lakon Wayang Wong, kisah Srikandi juga menginspirasi lahirnya berbagai repertoar tari klasik gaya Yogyakarta, termasuk Beksan Srikandi-Larasati, yang menampilkan karakter perempuan pemberani, anggun, dan mahir memanah.
Bagi pecinta Jemparingan Mataraman, kisah ini memiliki makna tersendiri. Sosok Srikandi menggambarkan bahwa memanah bukan hanya keterampilan fisik, tetapi juga hasil dari proses belajar, kedisiplinan, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut hingga kini tetap hidup dalam tradisi Jemparingan yang berkembang di Yogyakarta.
~ R. Kris Budiharjo ~
Pegiat & penggladhi Jemparingan Mataraman di Yogyakarta.