Gusti Paku Alam VIII:
Tokoh yang Menjembatani Jemparingan dan Panahan Modern Indonesia
"Warisan terbesar seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia bangun, tetapi apa yang tetap hidup setelah ia tiada."
Di dalam sejarah panahan Indonesia, nama K.G.P.A.A. Paku Alam VIII menempati posisi yang sangat penting. Beliau bukan sekadar Adipati Pakualaman atau Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga seorang pecinta panahan yang berhasil menghubungkan dua dunia yang sering dianggap berbeda: panahan tradisional warisan Mataram dan panahan olahraga modern.
Hingga hari ini, jejak pengabdian tersebut masih dapat dirasakan oleh para pegiat jemparingan maupun atlet panahan nasional.
.
Kecintaan pada Panahan Sejak Muda
Ketertarikan Gusti Paku Alam VIII terhadap panahan tumbuh sejak berada di lingkungan Kadipaten Pakualaman.
Beliau gemar berlatih panahan tradisional bersama para kerabat dan abdi dalem. Kegemaran itu tidak berhenti sebagai hobi, melainkan berkembang menjadi tekad untuk menjadikan panahan sebagai sarana pembentukan karakter dan kebudayaan.Bagi beliau, memanah bukan sekadar mengenai ketepatan mengenai sasaran, tetapi juga latihan kesabaran, konsentrasi, serta pengendalian diri.
.
Mendirikan PERPANI, Melestarikan Tradisi
Tahun 1953 menjadi tonggak penting dalam sejarah panahan Indonesia. Gusti Paku Alam VIII menjadi salah satu tokoh pendiri Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PERPANI) yang kemudian mengembangkan olahraga panahan modern di tingkat nasional hingga internasional.
Pada saat yang sama, beliau juga mendukung pelestarian panahan tradisional melalui organisasi Mardisoro, sehingga warisan budaya Mataram tidak hilang di tengah perkembangan olahraga modern.
Langkah ini menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling menguatkan.
.
Pakualaman sebagai Pusat Pelestarian Panahan Mataraman
Di bawah kepemimpinan Gusti Paku Alam VIII, Kadipaten Pakualaman menjadi salah satu pusat berkembangnya Panahan Mataraman.
Beliau secara rutin menyelenggarakan gladhen dan sayembara panahan sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa sekaligus memperkenalkan panahan kepada masyarakat luas.
Tradisi tersebut masih terus hidup hingga sekarang dalam berbagai kegiatan peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman.
Perlu dipahami bahwa pada masa Gusti Paku Alam VIII, istilah yang lazim digunakan adalah Panahan atau Panahan Mataraman.
Penyebutan Jemparingan Mataraman baru berkembang luas pada masa berikutnya.
.
Dari Lapangan Tradisional Menuju Dunia Internasional
Kontribusi Gusti Paku Alam VIII tidak berhenti di lingkungan budaya Jawa.
Beliau memperjuangkan agar panahan menjadi cabang olahraga resmi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), sekaligus mendorong PERPANI bergabung dengan federasi panahan dunia (FITA, kini World Archery). Berkat langkah tersebut, panahan Indonesia memperoleh jalan menuju panggung internasional.
Dengan demikian, beliau menjadi sosok yang menghubungkan akar budaya Nusantara dengan prestasi olahraga dunia.
.
Warisan yang Masih Hidup
Bagi masyarakat umum, Gusti Paku Alam VIII dikenang sebagai negarawan dan Pahlawan Nasional.
Namun bagi keluarga besar panahan Indonesia, beliau juga dikenang sebagai penjaga api yang memastikan tradisi tidak padam ketika zaman berubah.
Setiap kali seorang pemanah duduk bersila, menarik gandhewa dengan tenang, atau seorang atlet Indonesia berdiri di garis tembak pada kejuaraan internasional, sesungguhnya keduanya sedang berjalan di atas jejak sejarah yang pernah diperjuangkan oleh Gusti Paku Alam VIII.
.
.
Tentang Penulis
R. Kris Budiharjo adalah pengelola Jemparingan.com sekaligus pegiat pelestarian Jemparingan Mataraman. Melalui tulisan, dokumentasi, dan pendidikan budaya, ia berupaya menghadirkan sejarah sebagai warisan hidup yang dapat dipahami oleh masyarakat Indonesia maupun dunia.
Nyawiji. Greget. Sengguh. Ora Mingkuh.
Salam takzim,
R. Kris Budiharjo
.