Membaca Arsip: Ketika Gambar Kolonial Menjadi Jendela Budaya Mataram
"Setiap gambar menyimpan cerita. Tetapi tidak semua orang tahu cara membacanya."
Di internet kita dapat menemukan ribuan gambar lama tentang Yogyakarta. Sebagian hanya dipandang sebagai ilustrasi kuno, lalu dilewati begitu saja.
Namun bagi kami di JEMPARINGAN.Com, setiap arsip adalah sebuah pintu. Bukan sekadar menuju masa lalu, melainkan menuju cara berpikir masyarakat Mataram.
Salah satu contohnya adalah ilustrasi berjudul "De troepen van de sultan van Djokjakarta" yang dipublikasikan dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië pada tahun 1857.
Sekilas, gambar ini hanya memperlihatkan barisan prajurit Kasultanan Yogyakarta. Namun ketika diamati lebih lama, kita mulai melihat sesuatu yang jauh lebih menarik.
.
.
Melihat Melalui Mata Seorang Pengamat Asing
Hal pertama yang membuat ilustrasi ini istimewa justru karena dibuat oleh pengamat non-Jawa.
Setiap arsip tentu memiliki sudut pandang dan konteks zamannya. Karena itu, ilustrasi seperti ini perlu dibaca secara kritis. Namun di saat yang sama, ia juga menjadi rekaman visual yang sangat berharga tentang bagaimana kehidupan di Yogyakarta dipandang dan didokumentasikan pada pertengahan abad ke-19.
Alih-alih menolaknya karena berasal dari masa kolonial, kita dapat memanfaatkannya sebagai bahan belajar yang kemudian diperkaya dengan pengetahuan budaya Jawa yang masih hidup hingga sekarang.
.
.
Sultan Tetap Menjadi Pusat
Salah satu hal yang paling menarik dari ilustrasi ini adalah komposisinya.
Pandangan mata kita hampir otomatis tertuju kepada sosok Sultan yang ditempatkan di bagian atas tengah gambar. Beliau duduk sebagai pusat upacara, dikelilingi sentana dan abdi dalem yang duduk bersila dengan tertib.
Di bawahnya tampak berbagai kesatuan prajurit yang berbaris dalam prosesi. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa Kasultanan Yogyakarta memiliki struktur kemiliteran dan tata upacara yang tertata rapi.
Bahkan dalam ilustrasi ini, urutan prosesi menghadirkan kesan bahwa pasukan-pasukan Kasultanan tetap menjadi bagian utama dari pemandangan yang ingin direkam.
.
.
Ketika Busur Menjadi Bahasa
Ada satu detail kecil yang sering luput dari perhatian.
Perhatikan pemimpin pasukan yang membawa busur di atas bahunya.
Bagi kebanyakan orang, itu mungkin hanya cara membawa busur ketika berjalan.
Namun dalam tradisi Jemparingan Mataraman yang masih diwariskan hingga sekarang, sikap seperti ini dipahami sebagai bagian dari penghormatan kepada Sultan ketika melakukan lampah macak. Tradisi yang hidup hari ini membantu kita membaca makna yang mungkin tersembunyi di balik sebuah ilustrasi lama.
Inilah contoh bagaimana arsip dan tradisi dapat saling melengkapi.
.
.
Arsip Menjadi Hidup
Sebuah gambar tidak akan berbicara jika hanya dipandang sekilas.
Ia mulai hidup ketika kita berhenti, mengamati setiap detail, lalu menghubungkannya dengan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi kami, inilah cara membaca sejarah.
Bukan sekadar menghafal tanggal.
Melainkan belajar memahami simbol, tata upacara, bahasa tubuh, dan nilai-nilai yang membentuk peradaban Mataram.
Karena budaya tidak hanya hidup di dalam naskah.
Budaya juga hidup di dalam gambar.
Dan yang terpenting, budaya akan tetap hidup selama masih dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.
.
.
Informasi Arsip
Judul Asli
De troepen van de sultan van Djokjakarta
Terjemahan
Bregada Pasukan Kasultanan Yogyakarta
Tahun Publikasi
1857
Sumber
Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1857)
Koleksi Digital
Wikimedia Commons (Public Domain)
Tautan Arsip
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:De_troepen_van_de_sultan_van_Djokjakarta.jpg
.
.
🏛️ Catatan Kurator
"Sebagai pengajar Jemparingan Mataraman, saya percaya setiap arsip perlu dibaca dengan dua mata: mata sejarah dan mata budaya.
Ilustrasi ini tidak hanya menunjukkan bagaimana Yogyakarta pernah digambarkan pada tahun 1857, tetapi juga mengajak kita menemukan kembali makna yang masih hidup dalam tradisi hingga hari ini.
Itulah sebabnya JEMPARINGAN.Com menghadirkan rubrik Belajar Membaca Arsip, agar setiap gambar lama dapat kembali menjadi guru bagi generasi masa kini."
.
.