Beksan Nyokrokusumo dan Filosofi Jemparingan Mataraman
Memahami Tari, Panah, dan Jiwa Ksatria Mataram
Di dalam tradisi Mataram, seni merupakan jalan untuk memahami kehidupan. Tari, busana, senjata, dan gerak tubuh bukan sekadar unsur pertunjukan, melainkan media untuk menyampaikan nilai dan kebijaksanaan.
Salah satu warisan tersebut adalah Beksan Nyokrokusumo, tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tarian ini lahir sebagai penghormatan terhadap Sultan Agung Hanyokrokusumo, sosok pemimpin Mataram yang dikenang karena keberanian, kebijaksanaan, dan jiwa patriotiknya.
Bagi para tamu yang mengikuti pengalaman Jemparingan Mataraman di Amanjiwo, Beksan Nyokrokusumo menghadirkan pemahaman yang lebih dalam mengenai filosofi ksatria Jawa, di mana ketepatan, pengendalian diri, dan ketenangan batin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
Beksan Nyokrokusumo
Beksan Nyokrokusumo merupakan tari klasik gaya Yogyakarta yang termasuk dalam jenis beksan sekawanan, yaitu tarian yang dibawakan oleh empat penari putra dengan karakter alus impur.
Karakter alus impur menggambarkan seorang ksatria yang memiliki keberanian dan kemampuan bertempur, namun tetap halus dalam perilaku, tenang dalam sikap, dan mampu mengendalikan diri.
Penelitian mengenai bentuk koreografi tarian ini dilakukan oleh Sri Sadono Darmo Sudibyo dalam karya ilmiah Jurusan Seni Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1988.
Kisah dalam Tarian
Beksan Nyokrokusumo mengambil latar cerita dari kisah Panji yang berkembang dalam sastra Jawa.
Cerita tersebut mengisahkan peperangan antara Raja Nyokrokusuma dan Raja Mandrakusuma. Pertarungan yang ditampilkan bukan sekadar konflik fisik, melainkan juga gambaran mengenai kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Walaupun menggunakan nama Nyokrokusumo, tarian ini bukan kisah langsung mengenai Sultan Agung Hanyokrokusumo. Nama tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat kepahlawanan dan jiwa patriotik Sultan Agung.
Jemparing dalam Tari
Salah satu keunikan Beksan Nyokrokusumo adalah penggunaan jemparing (panah) sebagai properti tari.
Dalam budaya Jawa, panah bukan sekadar senjata. Panah melambangkan:
Ketepatan tujuan.
Konsentrasi.
Kesabaran.
Pengendalian diri.
Keseimbangan antara tubuh dan batin.
Gerakan memanah dalam tari memperlihatkan bahwa seorang ksatria tidak hanya dituntut memiliki kekuatan, tetapi juga kejernihan pikiran dan ketenangan hati.
Selain jemparing, penari juga menggunakan keris sebagai lambang kehormatan dan identitas seorang ksatria Jawa.
Motif Kawung dan Makna Kesederhanaan
Busana Beksan Nyokrokusumo sering menggunakan motif batik Kawung, salah satu motif tertua dalam tradisi Mataram.
Motif ini melambangkan:
Kesucian hati.
Keseimbangan hidup.
Pengendalian diri.
Kebijaksanaan.
Bagi seorang ksatria, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menguasai diri sendiri. Nilai tersebut juga menjadi dasar dalam tradisi jemparingan.
Jemparingan Mataraman
Tradisi jemparingan gaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan seni memanah yang menempatkan ketenangan batin di atas persaingan.
Seorang pemanah duduk bersila, menarik busur dengan tenang, lalu melepaskan anak panah dengan penuh kesadaran.
Dalam tradisi ini dikenal ungkapan: "Pamenthanging gandewa, pamanthenging cipta."
Saat busur direntangkan, pikiran dan hati harus dipusatkan.
Ketepatan anak panah tidak hanya ditentukan oleh mata dan tangan, tetapi juga oleh ketenangan jiwa.
Pengalaman Budaya di Amanjiwo
Kegiatan jemparingan di Amanjiwo bukan sekadar aktivitas olahraga tradisional. Kegiatan ini merupakan kesempatan untuk merasakan salah satu warisan budaya Mataram yang masih dipraktikkan hingga sekarang.
Melalui jemparingan, para tamu diajak memahami nilai-nilai Jawa:
Kesabaran.
Keharmonisan.
Pengendalian diri.
Konsentrasi.
Rasa hormat terhadap tradisi.
Nilai-nilai yang sama juga dapat ditemukan dalam Beksan Nyokrokusumo, sebuah tarian yang menghadirkan sosok ksatria Jawa yang berani, bijaksana, dan mampu menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan.
Tentang Pengajar Jemparingan
Kegiatan jemparingan di Amanjiwo dipandu oleh praktisi Jemparingan Mataraman gaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Melalui pengalaman langsung, para tamu tidak hanya belajar teknik memanah tradisional, tetapi juga mengenal filosofi, etika, dan nilai budaya yang hidup dalam tradisi Mataram.
Dengan demikian, setiap anak panah yang dilepaskan menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami budaya Jawa secara lebih mendalam.
Referensi
Sri Sadono Darmo Sudibyo. Analisis Bentuk Koreografi Beksan Nyokrokusuma. Jurusan Seni Tari, Fakultas Kesenian ISI Yogyakarta, 1988.
Tradisi Jemparingan gaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tradisi tari klasik gaya Yogyakarta.