Apa Itu Jemparingan?
Mengenal Panahan Tradisional Mataraman yang Mengajarkan Lebih dari Sekadar Memanah
.
.
Ketika mendengar kata Jemparingan, banyak orang langsung membayangkan seorang pemanah yang duduk bersila, mengenakan busana Jawa, lalu melepaskan anak panah ke sasaran.Gambaran itu benar.
Tetapi baru memperlihatkan bentuk luarnya.
Jemparingan Mataraman bukan sekadar cara memanah. Di dalamnya terdapat tata cara, nilai, filosofi, dan proses belajar yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, untuk mengenal Jemparingan, kita tidak cukup hanya belajar bagaimana memanah.
Kita juga perlu memahami mengapa memanah dilakukan dengan cara tersebut.
Apa Arti Jemparingan?
Kata Jemparingan berkaitan dengan kata jemparing, yaitu anak panah dalam bahasa Jawa.
Dalam perkembangannya, Jemparingan dikenal sebagai istilah untuk kegiatan memanah dalam konteks budaya Jawa.
Sementara itu, kata panahan lebih umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di Jemparingan.com, istilah Jemparingan terutama digunakan ketika membahas tradisi panahan Mataraman, khususnya yang berkembang di lingkungan Yogyakarta.
.
.
Apa Itu Jemparingan Mataraman?
Indonesia memiliki banyak tradisi panahan.
Jemparingan Mataraman adalah salah satu tradisi panahan yang berkembang dalam lingkungan budaya Mataraman dan memiliki hubungan erat dengan sejarah serta kebudayaan Yogyakarta.
Salah satu cirinya yang paling mudah dikenali adalah:
pemanah memanah sambil duduk bersila.
Busur dan anak panah yang digunakan juga memiliki karakter tradisional.
Dalam berbagai kegiatan, busana Jawa turut menjadi bagian dari suasana dan identitas budaya.
Namun semua itu hanyalah bentuk luar.
Hal yang lebih penting adalah nilai yang berada di baliknya.
Mengapa Memanah Sambil Duduk?
Pertanyaan ini sering muncul dari orang yang baru melihat Jemparingan.
Mengapa tidak berdiri seperti panahan modern?
Posisi duduk merupakan bagian dari tata cara Jemparingan Mataraman.
Dalam proses belajar, posisi tersebut juga mengajarkan pemanah untuk memperhatikan tubuh, menjaga ketenangan, dan memusatkan perhatian.
Jemparingan tidak mengajarkan bahwa kekuatan adalah segalanya.
Seorang pemanah membutuhkan:
ketenangan, konsentrasi, ketepatan, dan pengendalian diri.
.
.
Pamenthanging Gandhewa, Pemanthenging Cipta
Salah satu ungkapan yang sangat dikenal dalam Jemparingan adalah:
Pamenthanging Gandhewa, Pemanthenging Cipta
Busur direntangkan.
Pikiran diarahkan.
Ungkapan ini menggambarkan hubungan antara gerakan tubuh dan konsentrasi pikiran.
Ketika busur ditarik, tubuh bekerja.
Tetapi pikiran juga harus hadir.
Jika tubuh tergesa-gesa, gerakan menjadi tidak tenang.
Jika pikiran tidak terarah, bidikan pun dapat terganggu.
.
.
Belajar Mengenai Diri Sendiri
Dalam Jemparingan, sasaran memang penting.
Tetapi sasaran bukan satu-satunya tujuan.
Setiap anak panah memberikan kesempatan untuk belajar.
Jika meleset, kita memperbaiki teknik.
Jika tubuh tidak stabil, kita memperbaiki posisi.
Jika pikiran terganggu, kita belajar kembali menenangkan diri.
Dengan demikian, kegagalan mengenai sasaran bukan selalu sebuah kegagalan.
Ia bisa menjadi pelajaran.
Di sinilah Jemparingan menjadi menarik.
Mengendalikan anak panah dimulai dengan belajar mengendalikan diri sendiri.
.
.
Nilai-Nilai yang Dilatih
Jemparingan dapat menjadi media untuk belajar berbagai nilai kehidupan.
Sabar, karena hasil tidak selalu datang dengan cepat.
Konsentrasi, karena perhatian harus diarahkan pada satu tujuan.
Disiplin, karena kemampuan lahir dari latihan berulang.
Tenang, karena gerakan yang terburu-buru dapat mengganggu hasil.
Menerima, karena tidak setiap anak panah akan mengenai sasaran.
Dan yang tidak kalah penting:
menghormati guru, sesama pemanah, dan tradisi yang sedang dipelajari.
.
.
Mengapa Jemparingan Masih Relevan?
Kita hidup dalam dunia yang semakin cepat.
Jemparingan justru mengajarkan kita untuk berhenti sejenak.
Duduk.
Menarik napas.
Memusatkan perhatian.
Mengendalikan gerakan.
Kemudian melepaskan.
Nilai seperti ketenangan, konsentrasi, disiplin, dan pengendalian diri tetap dibutuhkan, bahkan mungkin semakin penting, di tengah kehidupan modern.
Itulah sebabnya Jemparingan tidak hanya menarik bagi masyarakat Jawa.
Ia juga dapat menjadi pintu bagi siapa pun yang ingin mengenal budaya Jawa melalui pengalaman langsung.
Termasuk wisatawan dari berbagai negara.
.
.
Jemparingan.com: Rumah Pengetahuan
Jemparingan.com dibangun bukan hanya untuk membicarakan busur dan anak panah.
Website ini ingin menjadi rumah pengetahuan Jemparingan Mataraman.
Di sini, kita akan berjalan lebih jauh:
mengenal sejarahnya,
mempelajari tekniknya,
memahami tata caranya,
mengenal tokoh-tokohnya,
dan yang paling penting,
memahami nilai yang diwariskan melalui Jemparingan.
Sebab budaya tidak akan hidup hanya karena ditulis dalam buku.
Budaya hidup ketika:
dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.
.
.
Jadi, Apa Itu Jemparingan?
Jika harus dijawab secara sederhana:
Jemparingan adalah tradisi panahan dalam kebudayaan Jawa yang, khususnya dalam tradisi Mataraman Yogyakarta, mengajarkan bukan hanya keterampilan memanah, tetapi juga ketenangan, konsentrasi, disiplin, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap budaya.
Karena itu, seseorang mungkin datang belajar Jemparingan untuk mengenai sasaran.
Tetapi dalam perjalanan belajar, ia mungkin menemukan sesuatu yang lebih penting:
dirinya sendiri.
Nyawiji. Greget. Sengguh. Ora Mingkuh.
Salam takzim,
R. Kris Budiharjo
Jemparingan Mataraman
Jemparingan.com